SMAK Penabur Gading Serpong
Jl. Kelapa Gading Barat Raya, Gading Serpong
Tangerang, Indonesia
February, 24th , 2009
Nanyang Technological University
50, Nanyang Avenue, Singapore 639798
Dear Madam/Sir
I am writing to you about the entrance requirements.
I am a student of Brilliant Class year 11 at SMAK Penabur Gading Serpong, interested in studying at your university. I want to check if Cambridge A level certificate is recognized there. I want to join your mathematics department at School of Physical and Mathematical Sciences.
I am looking forward to hear your answer as soon as possible. Thank you for your attention.
Faithfully yours,
Theo Ariandi
Senin, 23 Februari 2009
Sejarah Batik Indonesia
Batik berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman menjadi motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selan jutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Budaya Bangsa Indonesia yang demikian banyak telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Awalnya batik dibuat hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dibuat ditempatnya masing-masing.
Dalam perkembangannya, kesenian batik ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik menjadi pakaian umu yang digemari baik oleh pria maupun wanita.
Bahan kain putih yang digunakan saat itu adalah hasil tenunan sendiri dan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Batik Pekalongan
Batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Tetapi, perkembangan yang pesat diperkirakan terjadi setelah perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Dengan terjadinya perang ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di Pekalongan batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai perubahan pada motif dan tata warna seni batik.
Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.
Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik tak terlepas dari pengaruh negara-negara itu.
Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.
Batik berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman menjadi motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selan jutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Budaya Bangsa Indonesia yang demikian banyak telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Awalnya batik dibuat hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dibuat ditempatnya masing-masing.
Dalam perkembangannya, kesenian batik ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik menjadi pakaian umu yang digemari baik oleh pria maupun wanita.
Bahan kain putih yang digunakan saat itu adalah hasil tenunan sendiri dan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Batik Pekalongan
Batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Tetapi, perkembangan yang pesat diperkirakan terjadi setelah perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Dengan terjadinya perang ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di Pekalongan batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai perubahan pada motif dan tata warna seni batik.
Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.
Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik tak terlepas dari pengaruh negara-negara itu.
Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.
Pada tanggal 16-17 Januari 2009 lalu telah diselenggarakan Brilliant Competition kerja sama SMAK Penabur Gading Serpong dan Surya Institute. Brilliant Competition menjadi ajang kompetisi nasional matematika dan sains bagi siswa SMP se-Indonesia. Diorganisir oleh para guru dan 35 siswa Brilliant Class, Brilliant Competition sukses mempertemukan 119 tim dalam kompetisi yang . Setiap tim berjuang untuk meraih gelar kehormatan juara serta hadiah sejumlah 20 juta dan barang souvenir dari para sponsor: UPH, UNTAR, ENOPI, UMN, dan LONGMAN. Kompetisi matematika dijuarai (peringkat 1-4) oleh SMPK 2 BPK Penabur Jakarta, SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Solo, SMP Labschool Jakarta, dan SMPK 7 BPK Penabur Jakarta. Sedangkan kompetisi sains dijuarai (peringkat 1-4) oleh SMPK 2 BPK Penabur Jakarta, SMPK 2 BPK Penabur Jakarta, SMP Imannuel Pontianak, dan SMP Xaverius Palembang.
Langganan:
Komentar (Atom)